Kamis, 28 Mei 2009

PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI BAGI SEKTOR PERTANIAN

Negara Indonesia merupakan negara agraris yang hampir 80% penduduknya tinggal di pedesaan. Predikat sebagai negara swasembada pangan yang pernah di raih di tahun 80-an hanya tinggal kenangan, setelah itu Indonesia menjadi Negara pengimpor beras. Faktor yang menyebabkan Indonesia sebagai pengimpor beras adalah pemerintah terlalu fokus terhadap sektor industri dengan menyisihkan sektor pertanian.
Hal ini bisa kita lihat bagaimana seperti daerah karawang yang terkenal sebagai lumbung padi nasional, sekarang sebagian lahan produktif sudah berubah menjadi pusat-pusat industri. Bila kita lihat apa yang telah dilakukan negara jiran kita seperti Malaysia maka perhatian mereka terhadap pertanian cukup luar biasa. Selain membangun pusat-pusat penelitian pertanian, mereka juga memanfaatkan teknologi informasi untuk mendukung pembangunan sektor pertanian Malaysia. Berikut ini akan dipaparkan secara global tentang penerapan teknologi informasi yang diterapkan di beberapa negara berkembang termasuk negara jiran kita Malaysia.

A. Rice Irrigation Management System (RIMS) di Tanjung Karang, Malaysia

Sistem ini dikembangkan oleh Eltaeb Saeed, Rowshon, M.K., Amin, M.S.M. Tujuan pembangunan RIMS yang didukung teknologi GIS (Geographic Information System) adalah untuk melakukan efisiensi penggunaan air dan meningkatkan produktifitas lahan pertanian. Teknologi GIS berfungsi untuk menyimpan data ke dalam basis data komputer sehingga memungkinkan untuk melakukan analisa wilayah geografi dalam hal ini wilayah yang dilalui saluran irigasi. Kemampuan sistem RIMS yang menggunakan teknologi GIS dapat mengembangkan manajemen air dengan baik. Sistem RIMS diterapkan di wilayah irigasi Tanjung Karang, Malaysia.

Contoh interface terdapat dalam gambar di atas.

B. Glass House di MARDI, Malaysia

Teknologi Informasi juga memegang peranan penting di pusat penelitian pertanian Malaysia yang di kenal dengan nama MARDI (Malaysian Agriculture Research and Development Institute – www.mardi.my ). Implementasi teknologi informasi yang diterapkan di Glass House atau kita lebih mengenalnya dengan sebutan Rumah Kaca adalah pengontrolan lingkungan (environment control) melalui jaringan komputer. Fungsi rumah kaca adalah untuk melakukan proses penelitian yang berhubungan dengan pertanian seperti : rekayasa genetika bibit padi unggul, pembudidayaan padi dari hasil bibit unggul dan lain-lain. Sistem Kontrol pada rumah kaca ini sudah berjalan sejak tahun 2002.

Di dalam rumah kaca tersebut dipasang sensor suhu yang mengerakkan beberapa unit kontrol seperti kipas, sprinkler system dan lain-lain. Kesemua sistem tersebut dihubungkan melalui kabel ke pusat komputer. Jadi pusat komputer mengontrol 4 buah rumah kaca di tempat yang berbeda. Penerapan sistem ini dapat memberikan pengontrolan terhadap suhu sesuai dengan keadaan lingkungan yang dibutuhkan selama 24 jam.


II. Sebuah Solusi
Belajar dari pengalaman orang lain bukanlah hal yang memalukan. Hal yang patut kita sesalkan adalah tidak belajar dari pengalaman yang ada untuk meningkatkan kemampuan kita. Banyak para pakar di bidang teknologi informasi yang sudah memberikan usulan dan rancangan untuk merapatkan jurang digital di Indonesia. Selain merapatkan juga dapat berdaya guna untuk kepentingan masyarakat Indonesia. Dalam tulisan ini berusaha merangkumkan apa yang menjadi bahasan pada sebelumnya dengan isu yang sama.

A. Pendidikan murah berbasis Teknologi Informasi
Banyak yang sudah dilakukan oleh pihak swasta untuk mencoba menggairahkan perkembangan teknologi informasi di Indonesia seperti training cisco untuk SMK dan yang terbaru program Internet Goes To School (IGTS). Dan juga usaha – usaha yang dilakukan PT. Telkom Divre V Jawa TImur yang menargetkan 1000 sekolah di Jatim masuk dalam komunitas sekolah yang tersambung ke akses internet. Telkom Divre V juga menjalin kerjasama dengan kampus – kampus untuk membangun teknologi informasi melalui Smart Campus. Inisiatif – inisiatif ini membuat angin segar perubahan terhadap dunia teknologi informasi Indonesia. Sangat disayangkan kalau hanya dilakukan oleh pihak swasta karena mereka tidak memiliki budget dana yang cukup besar untuk proyek pendidikan murah berbasis teknologi informasi. Kalau boleh saya berikan sedikit perbandingan dengan apa yang telah dilakukan oleh Negara jiran kita, Malaysia, yang mau menyisihkan anggaran Negara sebesar RM 10 juta (+/- Rp 25 Milyar) dalam Program Internet Desa (PID). Persyaratan untuk membangun PID adalah daerah yang memiliki taraf hidup yang rendah, akses internet rendah dan memiliki sambungan telepon. Sasaran dari program ini adalah orang tua, wanita, pemuda dan diperuntukkan dalam sektor pertanian, pendidikan dan kewirausahaan. Ada 39 lokasi yang akan dibangun PID ini dengan total biaya pembangunan lokasi saja tanpa mengambil dana yang telah dialokasikan sebesar RM 2,8 juta (+/- Rp. 7 Milyar). Oleh karena itu seharusnya pemerintah Indonesia juga mau menyisihkan anggarannya untuk pendidikan dan teknologi informasi lebih banyak.

Bagaimana mungkin kita dapat mengimplementasikan teknologi informasi dalam bidang pertanian bila para petani tidak diberikan pembelajaran melalui workshop mengenai teknologi informasi. Walaupun hal itu bukan hal yang mudah karena hal ini menyangkut banyak faktor dan salah satunya rendahnya pendidikan petani kita. Hal yang perlu dilakukan memberikan pemahaman tentang pentingnya teknologi informasi sebagai salah satu cara untuk meningkatkan taraf kesejahteraan para petani kita. Sikap minimal yang diharapkan adalah tidak melakukan penolakan terhadap teknologi informasi. Pemahaman seperti itu harus dilakukan secara bertahap dimana mereka betul-betul merasakan manfaat dari teknologi ini. Termasuk perhatian yang besar dari pemerintah sebagai itikad baik untuk berusaha memajukan sektor pertanian Indonesia.

B. Ketersediaan Infrastruktur yang terjangkau oleh rakyat
Ketersediaan infrastruktur yang murah dengan koneksi yang cepat sangat diidam-idamkan oleh masyrakat Indonesia. Hal itu dapat berfungsi sebagai enabler bagi ide-ide inovasi yang berkembang dikalangan komunitas teknologi informasi. Sebagai contoh seperti apa yang dilakukan oleh sebuah komunitas teknologi wireless di Denmark dalam berusaha mengurangi biaya dalam upaya membangun jaringan wireless. Mereka membuat antena dengan menggunakan kaleng-kaleng bekas (http://thewirelessroadshow.org). Ide pembuatan antenna menggunakan kaleng ini juga sedang dipopulerkan di Indonesia khususnya banyak diimplementasikan di lingkungan kampus. Di Indonesia juga membangun VoIP Merdeka yang diprakarsai oleh DR. Onno W Purbo yang memberikan akses internet yang murah bahkan komunikasi SLJJ dan SLI dengan harga yang lebih murah dibandingkan menggunakan jaringan telpon biasa. Dengan upaya – upaya seperti ini seharusnya dapat memberikan jalan keluar untuk bisa menerapkan teknologi informasi di bidang-bidang seperti : pertanian, kedokteran, dan lain – lain. Artinya pemerintah dapat memanfaatkan produk – produk ini untuk dapat membangun infrastruktur teknologi informasi murah dan cepat sehingga dapat dirasakan manfaatnya bagi semua orang.


III. Penutup
Kegunaan teknologi informasi seharusnya tidak hanya dirasakan oleh kalangan tertentu saja misalnya profesional, perusahaan dan akademisi saja tapi kita coba mulai memikirkan membantu para petani atau nelayan dalam meningkatkan kemampuan mereka dalam mengelola lahan pertanian, identifikasi kawasan yang banyak ikannya dan sebagainya untuk meningkatkan produktifitas mereka. Kesemuanya pada akhirnya akan bermuara peningkatan pemasukan Negara. Hal ini dapat dilakukan bila ketersediaan infrastruktur teknologi informasi dapat dijangkau oleh masyarakat maka akan banyak aplikasi – aplikasi yang dapat diterapkan untuk kepentingan masyarakat.
(mifta.org)

evoLusi pErkembanGan teknoLogi Informasi

I. Empat era perkembangan Teknologi computer :

Secara garis besar, ada empat periode atau era perkembangan sistem informasi, yang dimulai dari pertama kali diketemukannya komputer hingga saat ini. Keempat era tersebut (Cash et.al., 1992) terjadi tidak hanya karena dipicu oleh perkembangan teknologi komputer yang sedemikian pesat, namun didukung pula oleh teori-teori baru mengenai manajemen perusahaan modern. Ahli-ahli manajemen dan organisasi seperti Peter Drucker, Michael Hammer, Porter, sangat mewarnai pandangan manajemen terhadap teknologi informasi di era modern.

Oleh karena itu dapat dimengerti, bahwa masih banyak perusahaan terutama di negara berkembang (dunia ketiga), yang masih sulit mengadaptasikan teori-teori baru mengenai manajemen, organisasi, maupun teknologi informasi karena masih melekatnya faktor-faktor budaya lokal atau setempat yang mempengaruhi behavior sumber daya manusianya. Sehingga tidaklah heran jika masih sering ditemui perusahaan dengan peralatan komputer yang tercanggih, namun masih dipergunakan sebagai alat-alat administratif yang notabene merupakan era penggunaan komputer pertama di dunia pada awal tahun 1960-

II. Era komputerisasi

Pemakaian komputer di masa ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi, karena terbukti untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu, mempergunakan komputer jauh lebih efisien (dari segi waktu dan biaya) dibandingkan dengan mempekerjakan berpuluh-puluh SDM untuk hal serupa. Pada era tersebut, belum terlihat suasana kompetisi yang sedemikian ketat.
Hampir semua perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang infrastruktur (listrik dan telekomunikasi) dan pertambangan pada saat itu membeli perangkat komputer untuk membantu kegiatan administrasinya sehari-hari. Keperluan organisasi yang paling banyak menyita waktu komputer pada saat itu adalah untuk administrasi back office, terutama yang berhubungan dengan akuntansi dan keuangan. Kunci dari keberhasilan perusahaan di era tahun 1980-an ini adalah penciptaan dan penguasaan informasi secara cepat dan akurat.


III. Era Globalisasi Informasi

Tidak ada negara yang mampu untuk mencegah mengalirnya informasi dari atau ke luar negara lain, karena batasan antara negara tidak dikenal dalam virtual world of computer. Penerapan teknologi seperti LAN, WAN, GlobalNet, Intranet, Internet, Ekstranet, semakin hari semakin merata dan membudaya di masyarakat. Terbukti sangat sulit untuk menentukan perangkat hukum yang sesuai dan terbukti efektif untuk menangkal segala hal yang berhubungan dengan penciptaan dan aliran informasi. Perusahaan-perusahaan pun sudah tidak terikat pada batasan fisik lagi. Melalui virtual world of computer, seseorang dapat mencari pelanggan di seluruh lapisan masyarakat dunia yang terhubung dengan jaringan internet. Sulit untuk dihitung besarnya uang atau investasi yang mengalir bebas melalui jaringan internet. Kebutuhan baru akan teknologi informasi yang cocok untuk perusahaan, yaitu teknologi yang mampu adaptif terhadap perubahan.

Tidak jarang perusahaan yang akhirnya harus mendefinisikan kembali visi dan misi bisnisnya, terutama yang bergelut di bidang pemberian jasa. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan perangkat canggih teknologi informasi telah merubah mindset manajemen perusahaan sehingga tidak jarang terjadi perusahaan yang banting stir menggeluti bidang lain. Bagi negara dunia ketiga atau yang sedang berkembang, dilema mengenai pemanfaatan teknologi informasi amat terasa. Di suatu sisi banyak perusahaan yang belum siap karena struktur budaya atau SDM-nya, sementara di pihak lain investasi besar harus dikeluarkan untuk membeli perangkat teknologi informasi. Tidak memiliki teknologi informasi, berarti tidak dapat bersaing dengan perusahaan multi nasional lainnya, alias harus gulung tikar.

IV. Perubahan Pola Piker Sebagai Syarat

Dari keempat era di atas, terlihat bagaimana alam kompetisi dan kemajuan teknologi informasi sejak dipergunakannya komputer dalam industri hingga saat ini terkait erat satu dan lainnya. Memasuki abad informasi berarti memasuki dunia dengan teknologi baru, teknologi informasi.




Komitmen, mau berubah untuk sukses dan tidak takut gagal, sangat penting untuk berhasilnya penerapan TEKNOLOGI INFORMASI sehingga menjadi piawai dalam persaingan dunia usaha saat ini dan akan datang.

Manfaat Teknologi Informasi Dalam Kehidupan Manusia

Manfaat Teknologi Informasi Dalam Kehidupan Manusia

Pendidikan memungkinkan terjadinya penyebarluasan teknologi informasi dan transformasi ilmu pengetahuan bagi sektor-sektor pendidikan. Sementara economy dapat mendorong usaha kecil dan menengah pedesaan agar dapat mendapatkan nilai lebih, serta menggerakan roda perekonomian desa.

Cobalah rasakan manfaatnya jika penduduk desa dapat mencari informasi terbaru mengenai benih padi unggul, bibit unggul tanaman budidaya lainnya atau informasi komoditas hortikultura unggulan. Begitu juga dengan para peternak yang dapat mengetahui tentang primadona produk unggulan peternakan. Tentunya bakal meningkatkan taraf hidup masyarakat pedesaan.

Untuk e-education, kita sudah mengenal program Internet Goes to School, Community Access Point, e-Learning, Smart Campus dan generasi Baru Guru Indonesia, yang dilansir salah satu operator terbesar di Tanah Air.

Bahkan untuk mempercepat penyebaran teknologi informasi ke wilayah-wilayah pedesaan. Internet dapat membuka peluang dan memberikan manfaat yang sangat banyak, termasuk dalam bidang keagamaan.

Keberadaan teknologi komunikasi dan informasi, terutama internet, mampu membuat batas-batas Negara dan budaya menjadi tidak lagi relevan. Untuk menghindari munculnya ekses-ekses negative, yang harus kita lakukan adalah membentengi iman sekuat mungkin.

Pemerintah juga harus menyiapkan perangkat peraturan terkait pembatasan kebebasan akses internet. Akses yang terlalu bebas bisa berakibat fatal bagi perkembangan masyarakat, terutama di daerah yang haus akan informasi.

Mengingat dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik yang disyahkan pemerintah pada 25 maret 2008 yang lalu, masih jauh dari keinginan masyarakat akan adanya pembatasan akses pornografi.

Harus kita sadari, teknologi informasi dan komunikasi, khususnya internet, hanyalah merupakan alat bantu saja dan bukan menjadi solusi dalam dunia pendidikan, formal maupun non formal. Bagaimanapun pendidikan yang bermutu didapat dari para pendidik yang bermutu plus dukungan pemerintah, dengan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa didik yang diimplementasikan dengan benar dan kreatif.

Kisruh Teknologi Informasi antara Manfaat dan Mudarat

Perkembangan teknologi informasi akhir-akh­­­ir ini ternyata memberikan pengaruh di luar dugaan. Masyarakat—terutama remaja—seperti kelimpungan menghadapi perubahan ini. Betapa tidak, berkembangnya jaringan internet hingga ke pelosok-pelosok desa berhasil membuat masyarakat yang sebagian besar petani dan peternak itu harus bersiap-siap terbang ke ‘peradaban’ baru. Peradaban yang menjadikan informasi sebagai ‘sembako’.

­

Seakan tidak siap dengan perubahan, tumbuhlah dalam masyarakat kita—secara tidak langsung­­­—sebuah kelompok anti globalisasi informasi. Mereka melakukan gerakan dengan berbagai landasan, kadang memilih agama, kadang juga memilih budaya. Alhasil, timbullah dua golongan yang saling bertentangan prinsip dan pandangan tentang globalisasi informasi. Pro dan kontra bertumbuhan.

Aneh memang, tapi inilah yang terjadi dalam masyarakat kita. Laju informasi yang begitu cepat menawarkan pengetahuan yang beragam bagi semua golongan masyarakat. Namun di sisi lain, beberapa informasi itu juga berdampak buruk bagi kebudayaan dan agama. Benarkah?

Suguhan-suguhan bernada pornografi menempati peringkat pertama sebagai pemicu pertentangan. Internet bahkan menyediakan tempat khusus bagi ‘menu’ yang satu ini, dan bahkan dapat diakses dengan mudah oleh siapapun. Jangankan remaja, anak-anak yang baru menginjak usia sepuluh hingga duabelas tahun pun bisa memanfaatkan layanan ini dengan leluasa.

Hal yang ditakutkanpun terjadi. Beberapa kasus kriminal yang dilakukan remaja di bawah umur di Indonesia beberapa waktu lalu, menyatakan bahwa suguhan-suguhan pornografi dari internet yang membuat mereka terpikat untuk melakukan hal yang sama. Internet akhirnya dicap oleh beberapa kalangan sebagai media yang memberikan pengaruh paling buruk.

Game online menempati peringkat kedua. Permainan yang dapat menghubungkan setiap pemain di dunia dalam petualangan virtual menyulap remaja dan anak-anak hingga meninggalkan beberapa rutinitas penting. Layanan ini perlahan menjadi ‘candu’ yang menggerogoti otak remaja. Bahkan orang dewasa juga terhipnotis dengan ‘menu’ yang satu ini.

Game online-pun berdampak ganda, positif dan negatif. Di satu sisi, permainan ini dengan dahsyat memotifasi anak-anak dan remaja untuk mempelajari dan menggunakan perangkat komputer, di samping layanan-layanan lainnya. Tapi di sisi lain, pengaruhnya malah telah mengalahkan dampak play station yang dulunya pernah ditentang oleh berbagai kalangan.

Di sebuah warnet di kota Padang, sebuah fenomena tertangkap oleh penulis. Di sana puluhan remaja usia sekolah sedang asyik berpetualang di dunia maya. Padahal saat itu sudah larut malam. Bahkan beberapa dari mereka tetap berpetualang hingga dini hari. Waktu yang seharusnya menjadi saat-saat istrahat dan mempersiapkan diri untuk sekolah esok hari, malah digunakan untuk permainan yang menyulap pikiran tanpa adanya manfaat yang berarti.

Dari tempat lain, golongan yang membutuhkan aliran informasi merasakan angin surga tengah mengalir seiring dengan cepatnya perkembangan teknologi informasi. Mereka adalah mahasiswa-mahasiswa dan pelajar yang benar-benar membutuhkan bantuan media secepat internet untuk memperoleh bahan-bahan pelajaran. Dengan internet, pekerjaan yang membutuhkan waktu lama dapat dikerjakan dalam beberapa saat.

Laju informasi yang cepat juga telah mendorong perkembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Penemuan-penemuan baru yang ada di luar negri dengan cepat dapat ditangkap oleh pelajar di Indonesia, kemudian diaplikasikan dengan ilmu yang telah ada. Hingga akhirnya memunculkan sesuatu yang inovatif dan bermanfaat.

Sebenarnya semua orang memahami dampak baik dan buruk yang akan ditimbulkan oleh perkembangan teknologi informasi. Tapi bandingan antara manfaat dan mudaratnya tidak sanggup memberikan keputusan untuk menghambat ataupun memperlancar lajunya yang semakin cepat. Apalagi dampak negatif yang ditimbulkannya juga telah menyulap pengguna jasa ini untuk merasakan ketergantungan lebih lanjut.

Yang dibutuhkan saat ini adalah kearifan dan kebijaksanaan pengguna jasa teknologi informasi. Sedangkan orangtua diharapkan agar lebih proaktif dalam mengontrol kegiatan anak-anak mereka, terutama bagi yang masih di bawah umur. Tanpa hal di atas, dampak buruknya akan semakin merebak. Padahal berkembangnya teknologi informasi menjanjikan pemenuhan kebutuhan informasi yang lebih cepat di masa yang akan datang.

Teknologi informasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.

Teknologi Informasi dilihat dari kata penyusunnya adalah teknologi dan informasi. Secara mudahnya teknologi informasi adalah hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dari bagian pengirim ke penerima sehingga pengiriman informasi tersebut akan:

  • lebih cepat
  • lebih luas sebarannya, dan
  • lebih lama penyimpanannya.

Agar lebih mudah memahaminya mari kita lihat perkembangan di bidang teknologi informasi. Pada awal sejarah, manusia bertukar informasi melalui bahasa. Maka bahasa adalah teknologi. Bahasa memungkinkan seseorang memahami informasi yang disampaikan oleh orang lain. Tetapi bahasa yang disampaikan dari mulut ke mulut hanya bertahan sebentar saja, yaitu hanya pada saat si pengirim menyampaikan informasi melalui ucapannya itu saja. Setelah ucapan itu selesai, maka informasi yang berada di tangan si penerima itu akan dilupakan dan tidak bisa disimpan lama. Selain itu jangkauan suara juga terbatas. Untuk jarak tertentu, meskipun masih terdengar, informasi yang disampaikan lewat bahasa suara akan terdegradasi bahkan hilang sama sekali.

Setelah itu teknologi penyampaian informasi berkembang melalui gambar. Dengan gambar jangkauan informasi bisa lebih jauh. Gambar ini bisa dibawa-bawa dan disampaikan kepada orang lain. Selain itu informasi yang ada akan bertahan lebih lama. Beberapa gambar peninggalan zaman purba masih ada sampai sekarang sehingga manusia sekarang dapat (mencoba) memahami informasi yang ingin disampaikan pembuatnya.

Ditemukannya alfabet dan angka arabik memudahkan cara penyampaian informasi yang lebih efisien dari cara yang sebelumnya. Suatu gambar yang mewakili suatu peristiwa dibuat dengan kombinasi alfabet, atau dengan penulisan angka, seperti MCMXLIII diganti dengan 1943. Teknologi dengan alfabet ini memudahkan dalam penulisan informasi itu.

Kemudian, teknologi percetakan memungkinkan pengiriman informasi lebih cepat lagi. Teknologi elektronik seperti radio, tv, komputer mengakibatkan informasi menjadi lebih cepat tersebar di area yang lebih luas dan lebih lama tersimpan.

Kamis, 07 Mei 2009

micKey mouSe,,,,

seMua pasti pernah mendengar nama "mickey mouSe". karena sebuah nama itu selalu memberikan suatu keceriaa, kebahagiaan dan senyum bukan hanya untuk anak-anak saja tapi juga untuk semua orang,,,,,,,

buatku saja mickey mouse selalu memberikan akuh senyuman di setiap saat. kalo akuh marah dengan seseorang terus dia memberikanku boneka atau pernak-pernik apapun yang berhubungan denga mickey mouSe akuh bakal secara sukarela memaafkan,,,,,
hwehehehehehehehhe......


buat yang g pernah tahu asal-usul mickey mouse akuh ceritain y,,,,,,,,,
download y,,,,,